Atas Nama Tuhan

Bangsa ini, jika merujuk kepada Pancasila yang oleh sebagian pihak dengan sangat ngotot dipertahankan sebagai dasar negara sudah pasti mengenal Tuhan. Palingtidak meskipuntidakteraktualisasidalam kehidupan sehari-hari, mengenal-Nya ketika beribadah

BAHKAN, saking kuatnya pengakuan kepada-Nya, menjadikan Pancasila yang sila pertamanya mengandung isyarat kewajiban beragama seperti agama juga. Bahkan, dalam perjalanan lebih lanjut di negeri ini Pancasila seperti lebih tinggi dari agama itu sendiri.

Terlepas dari persoalan bagaimana memosisikan agama terutama bagi orang yang oleh Cliford Gizts dimasukkan ke dalam kelompok abangan, yang jelas Tuhan jika dicermaii dalam per-undang-undangan dan setiap seremonial selalu hadir. Meskipun kcha-diran-Nya hanya basa-basi alias semua, lantaran hanya memenuhi tuntutan ideologi dan konstitusi negara. Dengan kala lain, secara formal Tuhan seperti tidak lepas dari ketatanegaraan Indonesia.

Namun, ketika bentuk ketertunduk-an kepada Tuhan itu akan diaktualisasikan persoalan mulai muncul, karena selain persoalan politik konflik kepentingan para pihak yang semestinya memegang otoritas dengan mengatasnamakan Tuhan ikut membuat buram wajah kebaikan Tuhan.

Sebab yang muncul tidak sedikit justru perbuatan bukan bernilai ketuhanan yang penuh dengan kebaikan, tapi justru tindakan yang bisa dikategorikan hanya pantas disematkan kepada iblis. Maka, yang terjadi kemudian adalah tindakan distruktif yang dibalut dengan atas nama Tuhan. Ini, sungguh ironi tentunya. Bagaimana mungkin sifat Tuhan yang penuh kebaikan disematkan kepada-Nya lindakan Iblis yang penuh dengan nilai gelap dan tiran. Sungguh upaya menyatukan air dengan minyak.

Mencermati fenomena kontradiktif tersebut di sela-sela pembahasan sebuah undang-undang yang ketika itu sangat sarat kepentingan ketuhanan Emha Ainun Najib sempat berujar dengan ungkapan yang kurang lebih berbunyi. “Buang saja asas ketuhanan!” Ungkapan tersebut jika melihat sifat relegiusitas bersangkutan saya yakin bukanlah bertujuan untuk menghilangkan asas itu. Mungkin hanyalah sebuah bentuk protes melihat fenomena di masyarakat terutama jika ada aturan yang mau menguatkan aspek ketuhanan selalu menimbulkan kontroversi. Bahkan, tidak jarang reaksi yang keluar melebihi masyarakat yang sangat sekuler.

Melihat carut marutnya wajah penegakan hukum baik di level Kepolisian, Kejaksaan. Pengadilan, dan mungkin juga Komisi Pemberantas-an Korupsi (KPK), kita bertanya untuk apa sumpah mereka yang selalu menggadaikan Tuhan?

Saya sebut menggadaikan karena mereka ketika akan menjabat mempertaruhkan nilai-nilai kebaikan Tuhan. Nilai-nilai kebaikan itu jika kita pcrsempit untuk para penegak hukum meliputi antara lain; keadilan, kejujuran, imparsialitas. dan lain-lain. Oleh karena mereka ketika akan melaksanakan tugas telah menggadaikan Tuhan, sejatinya berjalan sesuai sifat-sifat Tuhan yang nama baik-Nya dipertaruhan agar bersangkutan bisa mendapatkan kepercayaan.

Akan tetapi, jika dalam perjalanannya justru sifat-sifat Iblis yang tampak dan bahkan yang menjadi fenomena umum di kalangan masyarakat dalam poin ini bersangkutan telah mengkhianati Tuhan sekaligus menunjukkan bahwa aspek ketuhanan yang dalam tahapan tertentu diperjuangkan sampai menimbulkan friksi di antara anak bangsa hanya sampai level formal semata. Formal, karena nama Tuhan dibawa bawa agar bersangkutan bisa menduduki jatahan.

Lebih tragisnya lagi adalah ketika melihat keadilan penerapan hukum. Bandingkan antara pencuri kakao dan sisa panen kapuk. Dengan mengatasnamakan Tuhan majelis hakim memvonis mereka dengan sangat tegas. Namun, bandingkan dengan Gayus yang menurut Susno Duaji menjadi pengemplang pajak dengan atas nama Tuhan juga menjadi bebas murni. Bandingkan, berapa biji kakau dan berapa ton kapas jika uang berlmiyar milyar direkeningnya dibelikan kedua Jenis material itu.

Diskriminasi keadilan tersebut mengusik sejumlah orang termasuk saya berkaitan penggadalan nama Tuhan. Majelis hakim dalam setiap memutuskan perkara dalam kalimat paling atas selalu mengatasnamakan keadilan dan Tuhan. Jika kemudian, Tuhan hanya menjadi pelengkap formal, penyebutan kedua aspek itu tentunya tidak akan berpengaruh apa-apa selain untuk menghindari prosedur adimistratif belaka. Dan, jika sekiranya Tuhan nama baik dan buruk-Nya bergantung kepada prilaku umat manusia niscaya sudah hancur kredibilitasnya.

Namun, mengingat Ia sesuai keyakinan agama apapun tidak terkaitumat-Nya sudah tentu tidak terpengaruh, karena la tetaplah pencipta alam ini. Meskipun demikian. Jika orang-orang yang menggadaikan nama Tuhan telah semakin banyak skeptisme di kalangan umat akan semakin meningkat sekaligus semakin menurunkan nilai-nilai sombol ketuhanan itu sendiri kalangan masyarakat.

Bagi mereka, jika orang-orang yana semestinya berada di garda depan membuktikan nilai-nilai kebaikan Tuhan Justru berprilaku seperti iblis hilangkan saja simbol-sombol tersebut agar tidak menambah beban bangsa Ini. Bayangkan jika fenomena itu meng-, giring opini jika aspek ketuhanan dibuang saja dalam rangka mengurangi beban hidup. Sebab, jika hanya aspek profan saja yang harus dikedepankan, seseorang tidak perlu memikirkan aspek Tuhan yang kehadiran-Nya hanya j dalam aspek legal formal saja.

Ketika masalah integritas para penegak hukum mulai diragukan Pemerintah semestinya bergerak cepat. Sebab, melemahnya kepercayaan tidak hanya terkait dengan oknum dan institusi penegak hukum, tapi sudah merupakan serangan terhadap simbol negara.

Pancasilan adalah yang salah s.iiii nya memuat masalah ketuhanan adalah simbol negara sehingga harus”1 diwaspadai melemahnya kepercayaan, kepada nilai-nilai yang ada di dalam-j nya. Jika melemahnya kepercayaan-kepada aspek ketuhanan terus me-, ningkal. bukan sesuatu yang mustahil jika suatu saat agar masalah tersebut, diusulkan untuk dibuang, karena se lain tidak terlihat nilai-nilainya juga dianggap berlawanan dengan nilai-nilai, sekuler moderen yang sudah mulai di-; sii.ir.ik.ni oleh kelompok pro Barat.

Mencermati masalah, kita memang” harus memilih apakah mau mempertahankan atau merubah. Jika masih. mau mempertahankan jangan masalah historis yang dipertahankan, karena apabila itu aspeknya Pancasila lebih pantas berada di musium. melainkan harus diikuti dengan upaya penguatan etika dan nurani agar peng-gadaian nama Tuhan tidak semata-mata terlihat di aspek legal formal, lapi, tercermin dalam setiap langkah para penegak hukum khususnya dan sege-, nap anak bangsa pada umumnya.

penulis. Dr. Mahmudi Aysari

dicopyy dari harian Pelita

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s